Melatih Anak Berani Mengakui Kesalahan

Semua orang tentu pernah berbuat salah, baik disengaja maupun tidak. Namun ada  orang yang malu untuk mengakui kesalahan, bahkan kesalahan sering di tutupi dengan cara menghindar dan dapat menimbulkan permasalahan baru.

Padahal orang yang berani mengakui kesalahan akan memperoleh pengalaman hidup agar lebih baik. Apalagi Tuhan menciptakan manusia tidak ada yang sempurna, jadi sangat wajar kalau semua orang pernah berbuat kesalahan.

Mengakui kesalahan perlu dilatih sejak anak usia dini. Karena anak usia dinipun pernah melakukan kesalahan. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan agar anak mau  mengakui kesalahan.

Pertama, ajari anak untuk bersikap jujur. Yaitu sikap yang mencerminkan adanya kesesuaian antara hati, perkataan dan perbuatan, sikap apa adanya, tidak ditutup-tutupi atau tidak berbohong.

Sikap anak yang masih polos akan sangat mudah kita latih untuk bersikap jujur, namun anak akan sulit untuk bersikap jujur apabila disetiap melakukan kesalahan anak dimarahi orang tuanya atau di hukum. Hal demikian akan membuat anak takut untuk mengakui kesalahan. Berilah reward atau penghargaan dan dukungan sekecil dan seberat apapun kesalahan anak.

Kedua, ajari menyimpulkan bersama akibat dari kesalahan dan memperbaiki kesalahan. Misal anak kita berbuat salah karena membuang kulit pisang sembarangan dan ada orang lain yang terpeleset.

Saat itu orang tua bisa menyadarkan anak. ”Ade tadi bunda lihat membuang sampah sembarangan, jadi teman Ade jatuh terpeleset kuit pisang. Ayo Ade minta maaf dan kita ambil kulit pisangnya sama-sama yuk!” kita buang di tempat sampah. Ajak anak untuk segera minta maaf dan mengajaknya untuk mengambil kembali kulit pisang dan membuangnya di tempat sampah. Jauhkan dari sikap menghakimi sendiri tanpa memberikan solusi saat anak berbuat salah.

Ketiga, berikan rasa aman dan jangan paksa anak mengakui kesalahan kalau anak menghindar dan masih takut untuk mengakui kesalahan. Anak akan semakin takut kalau orang tua menyudutkan dan memaksa untuk mengakui kesalahan. Berilah dukungan dan rasa aman kepada anak. Kalau mereka sudah merasa aman biasanya anakpun akan jujur dan berani mengakui kesalahan.

Keempat, ajarkan keberanian kepada anak. Untuk mengakui kesalahan dibutuhkan keberanian, kalau anak belum berani meminta maaf, orangtua dapat menemani anak untuk meminta maaf agar timbul rasa percaya diri pada anak.

Kelima, beri contoh nyata dan keteladanan. Anak-anak adalah peniru ulung. Apa yang dilakukan orang tuanya akan menjadi contoh untuk mereka. Oleh karena itu saat orang tua melakukan kesalahan dan diketahui anak, tidak usah malu untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan. Dan berilah  contoh nyata kepada anak-anak bagaimana kita bisa memperbaiki kesalahan.

Melatih anak untuk mau mengakui kesalahan akan memberikan efek yang sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan serta kepribadian anak. Dengan mau mengakui kesalahan, anakpun akan cenderung dapat bersosialisasi dalam lingkungan dan dapat menjadikannya manusia yang berkarakter dan berakhlak mulia.

(Siti Munfarijah, M.Pd – Kepala TK Diponegoro 146 Kalibogor, Purwokerto Barat)

 

Sumber: Kemdikbud

You may also like...